Maaf-maafan Sebelum Bulan Ramadan Tidak Menjadi Penentu Puasa Diterima

  • 2 min read
  • Apr 30, 2021
Maaf-maafan Sebelum Bulan Ramadan Tidak Menjadi Penentu Puasa Diterima

Biasanya zaman sekarang ini, kalau menjelang bulan Ramadan, akan ada banyak pesan atau broadcast seputar ucapan maaf menjelang ramadhan. Ada pun hadits yang menjelaskan seputar kewajiban bermaafan tersebut. Tetapi hadits tersebut tidak mesti merupakan hadits yang shahih. Ada hadits yang menjelaskan kalau ibadah puasa tidak diterima jika tidak mohon maaf lebih dahulu kepada orang tua kalau masih ada. Lalu tidak bermaafan lebih dulu antara suami dan istri. Termasuk juga tak bermaafan dengan orang-orang di sekitarnya lebih dahulu.

Menelaah Hadits Seputar Maaf-Maafan Sebelum Bulan Suci Ramadan

Meski ada hadits seperti itu, setelah hadits ini lebih lanjut diteliti, ternyata hadits satu ini tidak terlalu jelas asal-usulnya. Hadits yang telah menyebutkan bahwa ibadah puasa kita tak akan diterima saat kita tidak melakukan maaf-maafan merupakan hadits yang dapat disebarkan pembuat hadits dengan arti yang tidak mesti benar. Ada kemungkinan juga makna dari hadits bisa berubah. Kemungkinan lain yaitu hadits dikait-kaitkan dengan adanya tradisi yang biasanya dilakukan sebelum menjelang bulan Ramadhan.

Jadi artinya, tidak berarti ibadah puasa kita menjadi sia-sia saat kita belum melakukan maaf-maafan tersebut. Tetapi, tidak berarti juga lantas menyepelekan bermaaf-maafan tersebut. Rasulullah telah bersabda bagi orang yang menzalimi saudaranya pada hal apa saja, maka wajib meminta maaf agar perbuatannya dihalalkan saudaranya. Lalu sebelum datang harinya saat tak ada ada dirham dan dinar, kalau punya amal saleh, maka amalnya tersebut dikurangi supaya bisa melunasi kezalimannya. Tetapi jika tidak memiliki amal, maka ditambahkan dosa-dosa yang berasal dari mereka yang dizalimi.

Disarankan untuk Meminta Maaf Sesegera Mungkin, Tidak Mesti Menunggu Momen Tertentu

Meski itu masuk bulan suci Ramadhan atau bukan, meminta maaf terhadap kesalahan yang sudah kita lakukan lebih baik dilakukan segera. Karena kita tak pernah tahu kapannya ajal menjemput. Saat kita belum minta maaf terhadap kezaliman yang sudah kita lakukan kepada orang lain, serta ajal menjemput, maka akan sangat disayangkan. Memaafkan orang lain merupakan amalan yang jelas sangat mulia. Allah SWT mewajibkan kita memberi maaf untuk orang lain, yang sudah tertera pada QS Al-A’raf ayat 199.

Kita harus menjadi pemaaf dan juga suruhlah orang untuk mengerjakan hal yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. Banyak orang-orang yang memanfaatkan momen menjelang bulan Ramadan untuk mulai bermaaf-maafan, mungkin mereka berpikir kalau Ramadhan merupakan bulan suci, sehingga bulan ini bisa mensucikan diri kita dari dosa-dosa. Dosa yang dimaksud tentu termasuk juga dosa atas kesalahan kepada teman, saudara atau pun keluarga.

Tetapi, mengatakan bermaaf-maafan ini adalah syarat supaya puasa diterima itu tidaklah benar. Tradisi yang ada di sekitar kita lebih baik ditelaah kembali karena sering kali bermaafan sebelum momen bulan Ramadan. Tetapi hal ini bukan merupakan hal tercela atau kesalahan. Kita bisa saja ikut pada tradisi tersebut tetapi jangan berpikiran kalau harus menunggu bulan Ramadan untuk meminta maaf dan memanfaatkan saudara-saudara muslim.

Seperti ibadah-ibadah lain, puasa di bulan suci Ramadhan diterima Allah, ketika dua syarat terpenuhi. Syarat tersebut yaitu ikhlas melakukan puasa karena Allah SWT dan juga mengikuti tuntunan Rasulullah. Saat bulan Ramadan ini, lebih baik kita melakukan lebih banyak kebaikan. Karena bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan pahala yang berlipat-lipat ganda. Termasuk juga bulan yang penuh dengan pengampunan.